Apa pendapat saya tentang sistem pendidikan di Indonesia ??

Sering orang bertanya-tanya, mengapa di negeri kita banyak sekali gedung-gedung sekolah yang besar dan megah, anak-anak memakai seragam dan menjadi siswa-siswi di sebuah sekolah negeri maupun swasta, banyak mahasiswa dan mahasiswi terpelajar, bahkan sarjana dan tidak sedikit pula yang menyandang insinyur, master, maupun profesor doktor yang mereka semua telah memperoleh pendidikan sedemikian rupa, namun masih banyak orang kelaparan di sekitar kita, di negeri kita yang tercinta ini, kemiskinan bukan semakin berkurang justru semakin merajalela, serta angka pengangguran yang tinggi.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia belum menjalankan peranannya dengan semestinya, atau belum berjalan sesuai yang kita harapkan, atau belum dapat mewujudkan cita-cita dari bangsa ini. Sungguh kita mengharapkan dari pendidikan di negeri ini supaya dapat mengubah kondisi masyarakat yang saat ini sedang memprihatinkan menjadi lebih baik, dapat mewujudkan kesejahteraan yang merata ke setiap individu dalam masyarakat, yang kemudian dapat menciptakan masyarakat madani, serta menjadi bangsa yang unggul dan mandiri yang dapat bersaing di dunia internasional di era global saat ini.

Tetapi pada kenyataannya, sebagian besar dari harapan dan cita-cita itu bertolak belakang dengan realita pada masa sekarang ini. Pendidikan di Indonesia dapat dikatakan belum bisa memberi solusi bagi permasalahan-permasalahan sosial yang ada di negeri ini. Jika kita menengok kepada negara lain yang maju seperti Jepang, Cina, Amerika, dan sebagian besar negara di Eropa, tingkat kesejahteraan sudah mencapai level yang cukup tinggi. Salah satu dari banyak faktor yang mempengaruhi pesatnya perkembangan dari negara-negara maju ialah pendidikan.

Sistem pendidikan yang dianut oleh setiap negara berpengaruh pada kelangsungan proses pendidikan itu sendiri. Apabila sistem pendidikan berjalan dengan baik, maka pendidikan secara keseluruhan akan menjadi baik dan suatu negara mampu menciptakan sumber daya – sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di era globalisasi yang dapat menjawab tantangan-tantangan yang silih berganti seiring dengan berjalannya waktu dan perkeembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat. Kita ambil contoh saja satu negara di Asia yang telah terbukti kualitas pendidikannya di mata dunia, yaitu Jepang. Mengapa Jepang? Di samping Jepang yang rakyantnya memiliki etos kerja yang tinggi, juga sistem pendidikan yang juga menunjang lancarnya proses belajar peserta didik di negara tirai bambu tersebut. Jepang juga terkenal sebagai negara yang sangat maju di bidang teknologi dan ilmu SAINS. Jika dibandingkan dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan, keduanya sama-sama bertujuan untuk meningkatkan kualitas peserta didik di masing-masing negara tersebut, mungkin hanya saja penerapan dan cara mengimplementasikannya yang membuat hasilnya berbeda.

Tetapi yang masih menjadi pertanyaan, apa yang salah dengan sistem pendidikan Indonesia sehingga belum mampu mencetak kader-kader bangsa? Jikalau ada, mengapa hanya ada sedikit sekali dari sekian banyak orang terpelajar di Indonesia? Mungkinkah pertanyaan ini dapat terjawab jika kita sudah mengenal lebih jauh tentang seluk beluk pendidikan yang ada di Indonesia, orientasi, tujuan, perilaku para civitas akademika dan karakter para pelaku dunia pendidikan di Indonesia, kita akan bahas dalam tulisan ini.

  1. Sistem Pendidikan secara umum

Berbicara tentang pendidikan tidak lepas dari apa yang disebut sistem pendidikan. Sistem sendiri memiliki makna yaitu satu-kesatuan komponen yang berfungsi untuk mengontrol, mengoperasikan dan menjalankan sesuatu yang kompleks agar berfungsi dengan baik dengan memiliki sebuah tujuan tertentu serta struktur atau komponen yang ada di dalam suatu sistem akan saling berintegrasi antara satu dengan yang lain. Pendidikan ditinjau dari segi asal kata atau bahasa, berasal dari kata Pedagogi, dimana kata tersebut berasal dari bahasa Yunani kuno yang dieja menjadi dua kata, yaitu Paid yang artinya anak dan Agagos yang artinya membimbing. Sederhananya, arti pendidikan adalah cara atau ilmu membimbing anak.

Pendidikan dalam arti luas :

  • Usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapayt secara aktif mengembangkan potensi dirinya dalam aspek spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan intelektual, tingkah laku (akhlak mulia), ketrampilan dan sosial masyarakat. (UU No. 20 tahun 2003)
  • Berasal dari kata didik, artinya memelihara dan memberi latihan yang diperlukan adanya ajaran, tuntutan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. (KBBI 1991:232)Sumber : (http://revolsirait.com)

                Jadi, sistem pendidikan secara sederhana adalah perencanaan yang di dalamnya terdapat suatu proses yang dirancang secara sistematis atau teratur untuk mengontrol segala aspek pendidikan dan menghasilkan sebuah tujuan yang diharapkan dari pendidikan itu. 

  1. Pendidikan di indonesia 

Pendidikan di Indonesia bisa dikatakan telah mengalami perubahan yang signifikan dari masa ke masa. Pendidikan telah ada sejak zaman Belanda menduduki Indonesia dimana pendidikan masih diperuntukkan bagi orang-orang kalangan tertentu. Belum setiap warga pribumi Indonesia dapat mendapatkan pendidikan di negeri sendiri. Hanya golongan bangsawan yang dapat mendapat pendidikan layak pada masa itu. Kemudian seiring pergantian era, berubahlah pula sistem pendidikan di Indonesia. Kemudian pada masa Jepang mengambil alih kekuasaan, sistem pendidikan berubah menjadi semi-militer. Pemerintah Jepang memberikan pendidikan bagi pribumi juga memiliki maksud agar dapat membantu Jepang dalam menghadapi sekutu.

Setelah Indonesia merdeka, semua sistem ketatanegaraan pun mulai sedikit demi sedikit ditata untuk menjadi negara yang berdaulat seutuhnya. Seiring dasar negara terbentuk, konstitusi, sistem pemerintahan dan kemudian diikuti oleh seluruh komponen negara diantaranya sistem pendidikan. Pada esensinya, pendidikan nasional Indonesia merupakan pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang berpangkal pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman. Adapun tujuan dari pendidikan Indonesia yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjangnya ialah membentuk masyarakat madani yang sejahtera dan mampu bersaing di era globalisasi, sedangkan tujuan jangka pendeknya ialah menciptakan insan Indonesia yang berakhlak mulia, memiliki kecerdasan intelektual dan demokratis.

 Langsung saja melihat pendidikan akhir-akhir ini, yang masih jauh dari harapan. Hal-hal yang menyebabkan merosotnya pendidikan di Indonesia dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya belum optimalnya para civitas akademika dalam menjalankan kurikulum yang berlaku, adanya beberapa pihak yang menyalahgunakan fasilitas untuk kepentingan pribadi, lebih mementingkan hasil pembelajaran peserta didik daripada melihat bagaimana proses belajarnya, kurangnya pengajar dalam menanamkan kejujuran dan komitmen terhadap pendidikan dan masih banyak lagi. Tetapi kita banyak melihat di sekitar kita faktor penyebab merosotnya kualitas penddidikan kita adalah kurangnya penanaman kejujuran di dalam aktivitas belajar mengajar peserta didik sehingga banyak sekali kasus-kasus seperti mencontek massal, kerjasama antara siswa dengan guru atau mahasiswa dengan dosen dalam hal pelaksanaan ujian dan bocornya soal serta jawaban ujian sebelum dilaksanakannya ujian tersebut. Hal tersebut sangat fatal akibatnya jika tidak cepat dimusnahkan dari budaya pendidikan kita. Akibatnya sering plagiat dan pemalsuan terjadi di kalangan pelajar yang orientasinya hanya hasil dan nilai mereka saat ujian nantinya, bukan seberapa jauh ilmu yang mereka dapatkan selama mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Persoalan lain menyangkut pendidikan di Indonesia adalah soal akhlaq mulia, budi pekerti dan kemampuan peserta didik terhadap lingkungan sosial masyarakaat. Hal ini harus ditanamkan sejak dini, paling tidak saat anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dunia pendidikan kita juga masih sering diwarnai oleh aksi-aksi yang dilakukan para peserta didik yang tidak semestinya mereka lakukan, seperti tindak kekerasan, taawuran antar sekolah atau antar mahasiswa, demonstrasi yang anarkis, aksi brutal pelajar saat usai ujian akhir nasional (UAN) dan sebagainya.

Sebelum membahas masalah-masalah seputar pendidikan, kita harus terlebih dahulu mengetahui sistem pendidikan apa yang dipakai. Setiap sistem pendidikan memiliki sebuah kurikulum. Kurikulum sangat penting karena tanpa adanya kurikulum, sulit perencana pendidikan dalam mengatur dan mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakannya. Kurikulum dapat berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Indonesia juga sempat beberapa kali mengalami perubahan kurikulum dengan rentang tahun 1947-2006 dengan rincian sebagai berikut :

  1. Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947 yang diberi nama Rentjana Pembelajaran 1947 yang merupakan lanjutan dari kurikulum yang digunakan di zaman penjajahan Belanda. Kurikulum ini lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.
  2.  Pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami penyempurnaan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
  3.  Di tahun 1964 berganti nama menjadi Rentjana Pendidikan 1964. Kurikulum ini lebih memusatkan pada pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerohanian, dan jasmani.
  4. Kemudian mengalami perubahan kembali di tahun 1968 dari struktur pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar dan kecakapan khusus. Pembelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat.
  5. Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Metode materi dirinci pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi (PPSI). Zaman ini dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu pelajaran tiap satu bahasan. Setiap satuan dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan intruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.  
  6. Kurikulum 1984 (Kurikulum 1975 yang disempurnakan) mengusung skill approach atau mengutamakan keterampilan dengan model Cara Belajar Siswa Aktif (CSBA).
  7. Kurikulum 1994 menekankan pada materi pembelajaran atau isi dar materi.
  8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menggunakan sistem caturwulan (2004).
  9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006-sekarang

Semua perubahan kurikulum yang sempat terjadi 7 kali notabennya telah membawa perbaikan dan penyempurnaan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Intinya adalah bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia ingin menjadikan pendidikan Indonesia unggul di segala bidang. Tetapi kita lihat realita di kehidupan nyata, sepertinya reformasi dan perubahan kurikulum tersebut masih dibilang jalan di tempat dan belum mewujudkan hasil yang nyata yang sesuai yang diharapkan, hal itu dapat terbukti berdasarkan riset Internasional yang menyebutkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih bertahan menduduki peringkat 63 dari 130 negara.

Kurikulum memiliki arti luas dan arti sempit. Kurikulum dalam arti sempit adalah rencana pembelajaran yang harus ditempuhatau diselesaikan siswa guna mencapai suatu tingkatan tertentu. Kurikulum dalam arti luas adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang menyangkut semua aspek yang dialami oleh peserta didik dalam mengembangkan diri, baik formal maupun informal, guna mencapai tujuan pendidikan. Kebanyakan dari kita memahami kurikulum dalam arti sempit saja, sehingga siswa-siswi hanya terpacu dalam mengejar hasil sementara tanpa melihat seberapa jauh pemahamannya. Hal tersebut menyebabkan kreativitas pengajar dan peserta didik dalam proses belajar mengajar akan terhenti dan kurang memperhatikan aspek lain yang cepat berkembang di masyarakat.

Beane (1986) menyatakan kurikulum sebagai :

  1. Produk
  2. Program
  3. Hasil belajar yang diinginkan
  4. Pengalaman belajar bagi siswa

Sedangkan menurut Said Hamid Hasan (1988), kurikulum setidak-tidaknya memiliki 4 dimensi, yaitu :

  1. Ide atau konsepsi
  2. Rencana tertulis
  3. Kegiatan/proses
  4. Hasil belajar

Menurut kedua pendapat para ahli di atas, kurikulum sebagai produk atau hasil belajar siswa sering kali disalah artikan dan masih mengandung kerancuan. Dampak nyata yang terlihat adalah daya serap peserta didik tidak optimal dan cenderung belajar tentang banyak hal tetapi dangkal. Hal inilah yang masih sering kita jumpai pada siswa-siswi kita, karena terlalu mengutamakan hasil atau nilai mereka, bukan melihat bagaimana proses belajar mereka. Terkadang dari pihak pengajar banyak yang tidak tahu, tidak mengerti atau hanya tidak mau tahu dengan bagaimana mereka berusaha untuk mendapatkan nilai atau hasil yang sedemikian rupa, hanya melihat nilai akhirnya saja.

PENDIDIKAN BERBASIS ICT

ICT dan perkembangannya

ICT (Information and Communication Technology) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara mudah adalah suatu sistem yang dikembangkan untuk memudahkan kita dalam menyampaikan berbagai informasi dan untuk memudahkan kita berkomunikasi agar suatu pesan dapat sampai kepada orang atau kelompok yang dituju dengan waktu yang lebih cepat dan efisien. Tujuan awal dikembangkannya ICT adalah mempermudah manusia dalam menyampaikan pesan kepada orang lain baik individu, kelompok tertentu, atau kepada khalayak. Tetapi saat ini sudah banyak pengembangan dari ICT terutama setelah diluncurkannya internet atau yang saat ini kita kenal sebagai WWW (World Wide Web) sebagai jaringan internet yang sangat luas dan dalam lingkup seluruh dunia atau internasional. Internet merupakan suatu sistem jaringan komputer yang saling terhubung satu sama lain atau sekumpulan jaringan komputer yang terhubung dengan jaringan komputer lain di seluruh dunia melalui sebuah gateway dan menggunakan protokol komunikasi untuk menyampaikan data agar tidak saling bertabrakan. Jadi dengan adanya internet kita dapat dengan sangat mudah mengetahui dan mengakses informasi dari seluruh dunia.

Perkembangan teknologi ICT tergolong berjalan sangat cepat dari masa ke masa. Pada tahun 1455, Johann Gutenberg berhasil menemukan mesin cetak menggunakan pelat besi. Pada tahun 1830, Augusta Lady Byron bersama Charles Babbage menemukan prinsip program komputer pertama di dunia 94 tahun sebelum komputer digital pertama (ENIAC 1) dibentuk, masih bersifat mekanik, dengan menggunakan mesin analytical milik Charles Babbage yang didesain mampu memasukkan data, mengolah dan menghasilkan output berupa sebuah kartu. Tahun 1837, Samuel Morse bersama Sir William Cook dan Sir Charles Wheatstone mengembangkan telegraph dan bahasa kode Morse yang dikirim secara elektronik antara 2 tempat yang berjauhan melalui kabel yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Pengiriman dan penerimaan Informasi ini mampu dikirim dan diterima pada saat yang hampir bersamaan waktunya. Penemuan ini memungkinkan informasi dapat diterima dan dipergunakan secara langsung dan cepat. Kemudian dilanjutkan dengan komputer mekanik yang pada waktu itu ukurannya masih sangat besar, lalu komputer digital pertama yaitu ENIAC 1, disusul penemuan transistor, kemudian penemuan keping silikon yang mampu menampung banyak komponen elektronik dalam satu keping yang disebut IC (Integrated Circuit) yang menjadikan ukuran komputer menjadi lebih kecil atau sangat kecil. Sampai pada akhirnya ditemukannya jaringan internet. Pada awalnya teknologi informasi dan komunikas digunakan untuk kepentingan pada masa perang dunia. Jaringan internet pada awalnya juga dipergunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan militer. Kemudian teknologi ini dikembangkan sebagai sarana teknologi komersial, ditandai dengan diluncurkannya sistem WWW. Pada akhirnya internet saat ini dapat diakses oleh siapapun semua orang dari semua kalangan dengan mudah dan murah di manapun kapanpun.

Mengapa harus berbasis ICT?

Seiring berkembangnya umat manusia, ditandai pula dengan bertambahnya jumlah populasi manusia yang begitu cepat dan kebutuhan manusia yang bertambah pula, manusia dituntut mampu untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Pada saat ini pula semua kebutuhan itu harus dipenuhi dengan cara yang paling mudah, untuk itu manusia selalu berinovasi agar menjadikan segala sesuatu yang dilakukan dapat lebih mudah dan instan. Pada zaman dahulu di negeri Yunani kuno, jika seseorang memerlukan berita tentang kerajaan harus ada seorang utusan yang menyampaikan berita tersebut kepada rakyat dari rumah ke rumah atau mengumumkannya di tempat umum. Jadi apabila mereka membutuhkan berita, mereka harus datang langsung kepada sumbernya. Kemudian apa yang terjadi jika hal itu terus kita lakukan sampai saat ini, pastilah kita kesulitan untuk mengetahui perkembangan apa yang sedang terjadi saat ini dan kita sulit untuk mengatur rencana apa yang harus kita persiapkan untuk hari esok. Dahulu mengirim pesan hanya bisa melalui surat di atas kertas, sekarang sudah bisa langsung menggunakan telepon atau atau telepon selular atau menggunakan layanan SMS (Short Message Service), bisa juga diakses melalui blog, web atau dikirim melalui surat elektronik atau e-mail.

Pada era globalisasi ini, kita dituntut untuk bekerja dan berpikir dengan cepat. Suatu informasi harus dapat dengan cepat sampai bagi yang membutuhkan. Untuk itu teknologi ICT sangat dibutuhkan. Teknologi ICT bersifat terbuka, global dan terintegrasi. Bersifat terbuka maksudnya setiap orang bebas terlibat dalam pengembangan teknologi ICT, bukan hanya dari golongan atau perusahaan tertentu saja. Banyak kita menemukan hacker atau programmer dari kalangan remaja dan masih bersekolah, atau mereka yang mengabdikan hidupnya kepada teknologi. Teknologi bersifat global maksudnya teknologi dapat digunakan di berbagai bidang, seperti perkantoran, bisnis, perdagangan, keperluan politik, manajemen, perbankan dan khususnya dalam bahasan ini adalah pendidikan. Sifat terintegrasi maksudnya ialah teknologi saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Contohnya kita ingin mengambil video tentang proses kegiatan belajar mengajar di suatu sekolah menggunakan handycam, kemudian kita ingin mengirimkan kepada rekan kita di luar kota melalui email, kemudian rekan kita ingin mengkopi ke notebook-nya selanjutnya meng-upload video tersebut ke blog atau website miliknya agar dapat di-download oleh rekan-rekan guru yang lain. Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi itu luas dan cukup kompleks. Teknologi satu dengan yang lain saling berkaitan dan saling melengkapi satu sama lain.

Untuk menjawab tantangan-tantangan era global saat ini, Indonesia pun dituntut mampu mengimplementasikan teknologi ICT ke dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan. Proses pendidikan akan berjalan dengan lancar apabila menggunakan teknologi ICT yang tepat. ICT juga sangat membantu guru untuk mencari sumber bahan ajar agar lebih memperkaya materi yang akan disampaikan. ICT juga membantu peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas mereka, membantu dalam mencari bahan pelajaran selain yang terdapat dalam buku, sumber wawasan yang mungkin tidak mereka dapat di dalam kelas dan mencari informasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang lainnya. Sekarang ini internet sangat membantu segala aktivitas setiap orang, apalagi di kalangan pelajar asalkan mereka menggunakan fasilitas ini dengan semestinya.

Fasilitas blog yang ada di internet memudahkan para pengajar, guru maupun dosen untuk menyampaikan informasi atau bahkan materi yang diajarkan tanpa harus melakukan tatap muka dan dapat dengan mudah diakses oleh para siswa. Fasilitas jejaring sosial yang sedang marak digunakan, seperti friendster, facebook, twitter dan myspace memudahkan kita mencari kawan dan mendapatkan informasi dari rekan-rekan kita dengan mudah. Kemudian fasilitas email, chatting, voice mail, telnet, FTP (File Transfer Protocol) dan masih banyak lagi yang apabila kita pergunakan dengan baik dan tepat akan sangat menunjang proses belajar mengajar. Fasilitas website akademik dari tingkat sekolah menengah sampai perguruan tinggi pun sudah banyak yang menggunakan website sebagai sarana penyedia informasi kepada para peserta didiknya. Sekarang ini kita dapat dengan mudah mendaftar sekolah ataupun perguruan tinggi tanpa harus mengambil formulir atau datang ke sekolah atau perguruan tinggi yang kita minati. Semua telah tersedia on-line melalui internet dan dapat diakses melalui komputer pribadi ataupun di warung internet, mulai dari pengisian formulir, pemilihan prodi, pendaftaran, pengisian kuesioner, input biodata, pembayaran uang formulir pendaftaran dan registrasi sampai pencetakan kartu peserta seleksi tes dan masih banyak lagi. Bayangkan kita masih harus menngunjungi ke lokasi untuk mendapatkan berkas formulir untuk kita mendaftar, berapa banyak biaya dan tenaga yang kita keluarkan. Semua proses tersebut dapat kita jalani dan kita selesaikan dengan mudah, cepat dan efisien apabila dibarengi dengan teknologi ICT yang saat ini sudah cukup maju.

Memang benar, teknologi dan pendidikan berbasis ICT sangatlah dibutuhkan pada saat ini sebagai sarana untuk mempermudah segala kegiatan mulai dari belajar mengajar, pemrosesan data akademik, pendaftaran peserta didik tahun ajaran baru, manajemen pendidikan, sampai peengolahan nilai. Semua akan menjadi lebih mudah dengan menggunakan teknologi atau komputerisasi (digitalisasi). Selain dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, juga data digital lebih mudah untuk diakses oleh siapapun, jadi kita tidak perlu lagi repot-repot menulis di atas kertas.  

  1. Realita pendidikan dan ICT Indonesia saat ini

Pendidikan dan ICT di Indonesia saat ini dirasa masih menjadi dua hal yang saling terpisah. Bukan pendidikan yang menggunakan ICT, atau ICT dipergunakan maksimal dan optimal untuk kepentingan pendidikan maupun menyelenggarakan pendidikan yang menyangkut ICT yang baik, benar serta tepat, tetapi sebagian besar di Indonesia masih tanggung dan setengah hati menggunakan teknologi ICT dalam kemaslahatan pendidikan. Banyak pihak yang belum tepat dalam menggunakan fasilitas ini, serta memanfaatkannya dengan tidak semestinya.

Sekarang dapat kita lihat dan saksikan sendiri berapa banyak prosentase siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswi yang lebih banyak menggunakan internet untuk bermain dibandingkan untuk kepentingan belajar mereka. Masih banyak kita melihat game online yang ramai dikunjungi oleh siswa-siswi kita, yang masih mengenakan seragam mereka, dan yang lebih parah lagi saat pagi hari bukan hari libur yang seharusnya pada waktu itu mestinya mereka sedang berada di dalam kelas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar atau dalam artian membolos. Dampak yang paling mudah dirasakan dari kebiasaan siwa-siswi yang sering membolos ini adalah merosotnya nilai mereka baik pada saat ulangan maupun saat mengerjakan tugas. Karena mereka lebih sering berada di luar kelas saat KBM sedang berlangsung dan saat ulangan tiba mereka tidak mengetahui bab apa yang akan di ulangankan.